Breaking News

Ketika Pasar Berjatuhan, Siapa Yang Menjaga Masa Depan Bangsa?

- Publisher

Senin, 19 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Rido Hermawan, M.Sc.

REALITAS YANG DIHADAPI

RI-1.com | Setiap bangsa punya janji kepada rakyatnya. Para pendiri bangsa ini sudah menuliskannya dengan sangat jelas di dalam Pembukaan UUD 1945: melindungi seluruh rakyat, menyejahterakan kehidupan, mencerdaskan anak bangsa, dan ikut menjaga perdamaian dunia. Ini bukan sekadar hafalan saat upacara bendera. Ini adalah kontrak kerja negara yang harus dibuktikan setiap hari.

Namun, mari kita bertanya dengan jujur: sejauh mana janji itu sudah dirasakan? Kita memang patut bersyukur, di tengah dunia yang sedang kacau, ekonomi kita masih bisa tumbuh sekitar 5 persen. Tapi, coba kita lihat apa yang terjadi di layar bursa saham kita. Pada 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57 persen ke level 5.199. Ini adalah kejatuhan terparah dalam sehari sejak krisis moneter tahun 1998 silam.

Sepanjang tahun 2026, nilai pasar saham kita hilang lebih dari 30 persen, membuat kita menjadi salah satu pasar terburuk di dunia. Nilai rupiah juga ikut terpuruk hingga menembus Rp 18.070 per dolar AS. Angka-angka ini bukan sekadar permainan para orang kaya di bursa. Angka ini adalah cermin dari runtuhnya kepercayaan dunia terhadap Indonesia.

POTRET KESENJANGAN

Di atas kertas, pemerintah mungkin bisaberbangga karena angka pengangguran turun ke 4,65 persen. Tapi mari kita lihat kenyataannya di lapangan. Dari sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru yang tercipta, hanya 250 ribu yang merupakan pekerjaan resmi (formal). Sisanya, sebanyak 1,65 juta orang atau 87 persen, terpaksa masuk ke sektor informal. Apa artinya? Artinya, jutaan saudara kita bekerja sebagai buruh harian, pedagang kecil, atau pekerja lepas. Mereka bekerja, tapi tanpa jaminan kesehatan, tanpa kepastian besok mau makan apa, dan seringkali dengan upah yang jauh dari cukup. Para ahli menyebut ini sebagai “survival employment”—kerja sekadar untuk bertahan hidup, bukan untuk sejahtera.

Ketimpangan juga semakin lebar. Rasio gini kita naik dari 0,363 menjadi 0,368. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang 5 persen itu sebagian besar hanya dinikmati oleh mereka yang ada di atas, sementara rakyat kecil semakin tercekik. Lebih parah lagi, jatuhnya pasar saham dan melemahnya rupiah membuat harga barangbarang impor melonjak. Lebih dari 70 persen bahan baku industri dan barang modal kita didatangkan dari luar negeri. Saat dolar mahal, biaya produksi naik, dan ujung-ujungnya harga barang di pasar ikut naik. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penyelamat ekonomi kita mulai melemah karena rakyat kelas menengah mulai takut berbelanja. Inilah paradoks yang menyakitkan: ekonomi tumbuh tinggi, tapi rakyat merasa semakin susah.

ANALISIS AKAR MASALAH

Kenapa semua ini bisa terjadi? Akar masalahnya bukan karena pemerintah tidak bekerja, melainkan karena ada persoalan mendasar yang belum beres.

Pertama, soal kepercayaan pasar. Pemicu jatuhnya IHSG adalah peringatan dari lembaga pemeringkat dunia, MSCI. Mereka menilai Indonesia tidak lagi layak menyandang status emerging market (pasar berkembang) dan mengancam akan menurunkan status kita menjadi standalone market (pasar terisolasi), yaitu status yang bahkan lebih rendah dari negara berkembang biasa. MSCI menyoroti masalah transparansi: siapa sebenarnya pemilik saham di Indonesia? Banyak yang tidak jelas. Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menegaskan bahwa pasar tidak butuh janji reformasi lagi. Pasar butuh bukti nyata perbaikan aturan. Ini adalah tamparan keras bagi kita.

Kedua, uang asing kabur tanpa henti. Sepanjang 2026, investor asing sudah menarik US 19 miliar (sekitar Rp 300 triliun) akan kabur dari Indonesia. Krisis kali ini berbeda dengan 1998 atau 2008. Dulu, setelah jatuh, uang asing biasanya kembali. Kali ini, mereka terus menarik uangnya dan tidak kembali.

Ketiga, beban negara yang berat. Negara kita terjebak menguras uang untuk subsidi energi (bensin dan listrik) demi menahan harga agar rakyat tidak menjerit. Tapi ini membuat kas negara kosong. Akibatnya, negara tidak punya cukup dana untuk membangun hal-hal produktif seperti sekolah yang bagus, rumah sakit, atau riset teknologi untuk masa depan.

HAL YANG BUTUH WASPADA

Dari potret di atas, kita harus berani menyalakan alarm Kewaspadaan Nasional. Jika kita membiarkan krisis kepercayaan ini berlarut-larut, yang dipertaruhkan bukan cuma angka IHSG, tapi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kejatuhan pasar saham kita adalah sinyal bahwa dunia internasional mulai meragukan kredibilitas kita. Kita terancam dikucilkan dari pergaulan ekonomi utama Asia Pasifik. Ini adalah posisi yang memalukan bagi bangsa sebesar Indonesia.

Krisis ini juga adalah cermin dari masalah yang lebih dalam. Ketika para elite politik kita masih sibuk berdebat soal hal-hal remeh yang tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan rakyat, ketika reformasi hanya jalan di tempat, dan ketika rakyat merasa negara tidak hadir untuk mereka, maka fondasi bangsa ini sedang digerogoti dari dalam. Pemerintah sendiri sudah mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan. Jangan sampai krisis pasar ini menjadi pintu masuk bagi upaya-upaya untuk membuat Indonesia gaduh dan jatuh.

Kewaspadaan ini bukan bentuk keputusasaan. Ini adalah bentuk cinta kita pada negeri ini. Kita berteriak agar generasi mendatang tidak mewarisi bangsa yang hancur dan kehilangan arah.

SARAN JALAN KELUAR

Tentu, peringatan ini tidak boleh berhenti pada rasa takut. Kita harus bergerak. Pertama, bereskan tata kelola pasar saham. Pemerintah dan DPR harus segera membuat aturan yang jelas dan transparan soal siapa pemilik saham di Indonesia. Jangan cuma janji, tapi buktikan sebelum MSCI mengevaluasi kita kembali.

Kedua, jaga rupiah dan belanja negara. Bank Indonesia dan pemerintah harus bahu-membahu menstabilkan harga. Hentikan impor barang yang tidak terlalu penting agar dolar tidak makin mahal, dan pastikan bantuan sosial tepat sasaran.

Ketiga, ciptakan lapangan kerja yang layak. Jangan biarkan rakyat terus bekerja serabutan. Percepat pembangunan industri pengolahan (hilirisasi) agar lapangan kerja formal terbuka lebar.

Keempat, sudahi drama politik yang melelahkan. Kejatuhan IHSG ini adalah tamparan keras. Dunia tidak akan menunggu kita selesai bertengkar. Para elite politik harus menghentikan drama dan mulai fokus pada agenda besar menyelamatkan ekonomi bangsa.

Kelima, edukasi masyarakat. Masyarakat perlu diberi tahu bahwa pasar saham bukan cuma urusan orang kaya. Pasar saham adalah cermin dari kondisi ekonomi negara yang berdampak pada harga sembako dan lapangan kerja.

KEMBALI PADA TUJUAN BERNEGARA

Pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan tujuan. Kita hanya kehilangan fokus. Kita terlalu lama asyik menatap ke belakang, sementara dunia dan pasar keuangan terus bergerak tanpa menunggu.

Kejatuhan IHSG lebih dari 30 persen adalah cermin dari kepercayaan yang runtuh. Namun, kepercayaan bisa dibangun kembali. Sejarah membuktikan, bangsa yang bisa bangkit adalah bangsa yang berani melihat masalahnya dengan jujur, mengakui kesalahan, dan segera bertindak.

Mari kita berhenti bertanya “siapa yang salah?” dan mulai bertanya “apa yang harus kita lakukan?”. Mari kita berhenti menjadi penonton, dan mulai membangun. Kita waspada karena kita percaya Indonesia bisa lebih baik. Kita waspada karena kita ingin memastikan bahwa tahun 2045 bukan sekadar angka di atas kertas, tetapi kenyataan: Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah yang paling kaya, tetapi yang paling peduli pada masa depannya—dan berani bertindak untuk menyelamatkannya.

——–

Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan tidak mewakili institusi tempat penulis bekerja.

───

Referensi:

  1. Pembukaan UUD NRI Tahun 1945
  2. Badan Pusat Statistik. (2026). Laporan Ketenagakerjaan dan Kemiskinan Bloomberg. (2026, 15 Oktober). Indonesia Stocks Sink Most in 28 Years on MSCI Downgrade Warning.
  3. Kontan. (2026, 16 Oktober). IHSG Anjlok 11%, Penurunan Harian Terdalam Sejak 1998 Usai Pengumuman MSCI.
  4. Kontan. (2026, 16 Oktober). IHSG Ambruk 11%, Terburuk dalam 28 Tahun, Dana Asing Terancam Kabur US$ 28 Miliar.
  5. Kompas.com. (2026, 8 Mei). Rupiah Terpuruk, Rambatannya Menekan Periuk.
  6. Kontan. (2026, 6 Agustus). Ketimpangan Ekonomi Meningkat, Manfaat Pertumbuhan Dinikmati Kelompok Atas.

(Red)

Komentar

Berita Terkait

Bidik Pasar Internasional, Kemenko Pangan Dorong Inovasi Susu Kambing dan Kesejahteraan Peternak
Dari Demo Biaya Hidup hingga Penjarahan, Ini yang Terjadi di Prancis pada 17 Oktober
Dokter Only One Taylor Dilaporkan Atas Dugaan Penganiayaan
Agung Endrawan dan Ketua Ombudsman RI Bekali Lulusan FH UNAS Hadapi Persaingan Karier
Darling Perdana, PDI Perjuangan Jakarta Timur Himpun 161 Kantong Darah
Agung Endrawan dan Ketua Ombudsman RI Bekali Lulusan FH UNAS Hadapi Persaingan Karier
Kementerian PU: Membangun Infrastruktur, Menegakkan Integritas
Wisata Halal Indonesia: Membangun Daya Saing Global Tanpa Kehilangan Jati Diri Lokal

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:46 WITA

Bidik Pasar Internasional, Kemenko Pangan Dorong Inovasi Susu Kambing dan Kesejahteraan Peternak

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:38 WITA

Ketika Pasar Berjatuhan, Siapa Yang Menjaga Masa Depan Bangsa?

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:24 WITA

Dari Demo Biaya Hidup hingga Penjarahan, Ini yang Terjadi di Prancis pada 17 Oktober

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:16 WITA

Dokter Only One Taylor Dilaporkan Atas Dugaan Penganiayaan

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:14 WITA

Agung Endrawan dan Ketua Ombudsman RI Bekali Lulusan FH UNAS Hadapi Persaingan Karier

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:13 WITA

Darling Perdana, PDI Perjuangan Jakarta Timur Himpun 161 Kantong Darah

Senin, 19 Oktober 2026 - 08:24 WITA

Agung Endrawan dan Ketua Ombudsman RI Bekali Lulusan FH UNAS Hadapi Persaingan Karier

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:28 WITA

Kementerian PU: Membangun Infrastruktur, Menegakkan Integritas

Berita Terbaru

Nasional

Ketika Pasar Berjatuhan, Siapa Yang Menjaga Masa Depan Bangsa?

Senin, 19 Okt 2026 - 17:38 WITA

Berita Polri

Wakapolres Bandara Tekankan Disiplin dan Kesiapsiagaan Personel

Senin, 19 Okt 2026 - 14:40 WITA