Breaking News

“Negara Harus Dikelola dengan Meritokrasi, Bukan Kepentingan Politik”

- Publisher

Rabu, 8 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — RI-1.com  |  Pengamat politik Samuel F. Silaen menilai Indonesia membutuhkan reformasi menyeluruh dalam tata kelola pemerintahan agar mampu menghadapi tantangan ekonomi, politik, dan pembangunan nasional. Silaen mengingatkan bahwa negara tidak dapat dikelola dengan pola yang mengabaikan profesionalisme dan kompetensi.

Menurutnya, sistem pemerintahan yang sehat seharusnya mengedepankan meritokrasi, transparansi, dan akuntabilitas sebagaimana diterapkan dalam tata kelola korporasi modern.

“Saya sering bertanya, perusahaan mana di dunia ini yang mau dikelola seperti tata kelola negara yang kita lihat sekarang? Kalau sebuah perusahaan menempatkan orang bukan berdasarkan kemampuan, tetapi karena kedekatan politik atau nepotisme, saya yakin perusahaan itu tidak akan bertahan lama, bahkan bisa bangkrut dalam hitungan bulan,” ujar Samuel F. Silaen kepada awak media di Jakarta, Senin (7/7/2026).

Silaen menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah organisasi, baik perusahaan maupun negara, sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang menduduki posisi strategis. Karena itu, jabatan publik menurutnya tidak semestinya dipandang sebagai bentuk balas jasa politik.

“Jabatan publik bukan hadiah atas loyalitas politik. Jabatan adalah amanah yang harus diberikan kepada orang yang memiliki kapasitas, integritas, dan kompetensi. Kalau prinsip meritokrasi ditinggalkan, maka pelayanan publik ikut menurun dan kualitas kebijakan menjadi tidak optimal,” katanya.

Dalam pandangannya, berbagai persoalan yang muncul dalam pembangunan nasional menunjukkan masih lemahnya manajemen pemerintahan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan program.
Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi seluruh penyelenggara negara agar kebijakan publik benar-benar berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.

Selain menyoroti aspek birokrasi, Silaen juga mengingatkan pentingnya menjaga kekayaan alam Indonesia agar dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat sebagaimana amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

“Saya melihat ada kecenderungan sebagian oknum lebih fokus mengejar kepentingan pribadi daripada menjaga kekayaan negara. Padahal sumber daya alam adalah milik seluruh rakyat Indonesia yang harus dikelola secara bertanggung jawab,” tegasnya.

Ia menambahkan, penyalahgunaan kewenangan yang dibiarkan berlarut-larut berpotensi mengikis kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Menurut Silaen, penegakan hukum harus dilakukan secara konsisten tanpa membedakan latar belakang politik maupun jabatan seseorang.

“Hukum harus menjadi panglima. Kalau memang ada penyalahgunaan wewenang atau korupsi, penegakan hukum harus tegas, memberikan efek jera, termasuk penyitaan aset hasil tindak pidana sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Silaen juga mendorong dilaksanakannya audit yang independen terhadap berbagai kebijakan yang diduga merugikan keuangan negara agar seluruh proses dapat dipertanggungjawabkan secara transparan kepada publik.

Ia berpandangan bahwa reformasi birokrasi harus dimulai dari sistem rekrutmen pejabat yang berbasis merit system, profesionalisme, dan pengawasan yang objektif sehingga setiap jabatan diisi oleh individu yang memiliki kemampuan sesuai bidangnya.

Di sisi lain, Silaen mengajak masyarakat untuk terus mengawal jalannya pemerintahan melalui mekanisme demokrasi yang dijamin konstitusi.
“Kepercayaan publik adalah modal utama negara. Kalau tata kelola pemerintahan dibangun di atas keadilan, kompetensi, dan integritas, saya optimistis Indonesia mampu menjadi negara maju. Tetapi jika prinsip-prinsip itu diabaikan, masyarakat tentu akan kehilangan kepercayaan kepada penyelenggara negara,” katanya.

Lanjut, Samuel F. Silaen menegaskan bahwa pembenahan tata kelola pemerintahan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga seluruh elemen bangsa.
Menurutnya, penerapan meritokrasi, penegakan hukum yang adil, serta pengelolaan sumber daya alam sesuai amanat konstitusi merupakan fondasi penting untuk menjaga stabilitas nasional sekaligus mewujudkan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Catatan Redaksi: Isi wawancara ini merupakan pandangan dan analisis narasumber, Samuel F. Silaen, sebagai pengamat politik. Pernyataan yang disampaikan menjadi tanggung jawab narasumber dan disajikan sebagai bagian dari prinsip keberimbangan serta kebebasan berpendapat yang dijamin dalam sistem demokrasi Indonesia.

(Red)

Komentar

Berita Terkait

Kebon Sayur Ciracas & Lapangan Tembak Kelapa Dua Wetan Resmi Gabung ATUR Jakarta, Ini 6 Pernyataan Sikap dan 7 Tuntutan Tegas Ketua Aksi KDW Oloan Rajagukguk di Gambir
Tagih Janji Menteri ATR/BPN, Massa Aksi Demo Kembali Datangi Kementerian, Minta Evaluasi Sertifikat PT Musim Mas di Medan
Peluncuran Buku Strategi Baru Pemberantasan Mafia Tanah, Agung Endrawan: Momentum Pembenahan Tata Kelola Pertanahan
Terpesona Bali, Delegasi Nigeria Antusias Ikuti IAWP
Bukan Cuma Soal Lahan, Sengketa Club de Arjuna Berdampak ke Ratusan Pekerja
Pendidikan Negeri Gratis dari SD hingga PTN, Prof Didik Dorong Wajib Belajar 15 Tahun
Jejak Nihil Rombongan Jurnalis di Selat Sunda, Waketum IMO-Indonesia Soroti Kinerja Andra Soni hingga Pigai
Letjen I Nyoman Cantiasa: PHDI Harus Jadi Rumah Besar Umat Hindu, Kepentingan Umat di Atas Segala-galanya

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 15:48 WITA

Kebon Sayur Ciracas & Lapangan Tembak Kelapa Dua Wetan Resmi Gabung ATUR Jakarta, Ini 6 Pernyataan Sikap dan 7 Tuntutan Tegas Ketua Aksi KDW Oloan Rajagukguk di Gambir

Kamis, 24 September 2026 - 14:24 WITA

Peluncuran Buku Strategi Baru Pemberantasan Mafia Tanah, Agung Endrawan: Momentum Pembenahan Tata Kelola Pertanahan

Rabu, 23 September 2026 - 10:32 WITA

Terpesona Bali, Delegasi Nigeria Antusias Ikuti IAWP

Selasa, 22 September 2026 - 09:41 WITA

Bukan Cuma Soal Lahan, Sengketa Club de Arjuna Berdampak ke Ratusan Pekerja

Selasa, 22 September 2026 - 09:38 WITA

Pendidikan Negeri Gratis dari SD hingga PTN, Prof Didik Dorong Wajib Belajar 15 Tahun

Senin, 21 September 2026 - 10:38 WITA

Jejak Nihil Rombongan Jurnalis di Selat Sunda, Waketum IMO-Indonesia Soroti Kinerja Andra Soni hingga Pigai

Kamis, 17 September 2026 - 23:05 WITA

Letjen I Nyoman Cantiasa: PHDI Harus Jadi Rumah Besar Umat Hindu, Kepentingan Umat di Atas Segala-galanya

Rabu, 16 September 2026 - 22:56 WITA

Agung Endrawan Dekatkan Informasi Pelayanan Masyarakat melalui Ruang Virtual

Berita Terbaru

Berita Polri

Sat Lantas Polres Bandara Atur Arus Kendaraan di Jalur Keluar Bandara

Kamis, 24 Sep 2026 - 15:51 WITA

Berita Polri

Patroli di DPPU, Polres Bandara Pastikan Keamanan Kawasan Bandara

Kamis, 24 Sep 2026 - 15:49 WITA