DENPASAR, BALI – RI-1.COM, Sebanyak tujuh desa adat di Bali menerima predikat Desa Adat Sadar Alam dalam rangkaian Festival PESONA Tahura Ngurah Rai 2026 yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Bali. Apresiasi tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan atas pentingnya keterlibatan masyarakat adat dalam mendukung pelestarian lingkungan, khususnya menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove yang memiliki peran strategis bagi kawasan pesisir Bali.
Ketujuh desa adat penerima predikat tersebut adalah Desa Adat Intaran, Desa Adat Sidakarya, Desa Adat Sesetan, Desa Adat Pemogan, Desa Adat Pedungan, Desa Adat Tanjung Benoa, dan Desa Adat Kepaon. Pemberian predikat ini sekaligus menjadi upaya mendorong penguatan peran desa adat sebagai mitra konservasi yang tidak hanya memiliki kedekatan secara sosial dan budaya dengan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem di wilayahnya masing-masing.
Di tengah berbagai tantangan terhadap keberadaan kawasan pesisir dan ekosistem mangrove, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan upaya konservasi berjalan secara berkelanjutan. Karena itu, program Desa Adat Sadar Alam diarahkan untuk membangun kesadaran kolektif bahwa pelestarian lingkungan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau pengelola kawasan, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.
Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai, I Putu Agus Juliartawan, menyampaikan bahwa pelestarian kawasan mangrove tidak dapat dilakukan hanya oleh pengelola kawasan. Dukungan berbagai elemen masyarakat, terutama desa adat yang berada di sekitar kawasan, menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan fungsi ekologis Tahura Ngurah Rai.
“Pelestarian kawasan Tahura Ngurah Rai tidak bisa dilakukan sendiri oleh pengelola. Kami membutuhkan dukungan dan partisipasi seluruh elemen masyarakat. Desa adat memiliki peran yang sangat penting karena masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem sosial dan lingkungan di sekitar kawasan. Kami berharap penghargaan Desa Sadar Alam ini tidak berhenti sebagai sebuah apresiasi, tetapi menjadi komitmen bersama untuk terus menjaga, merawat, dan melestarikan kawasan mangrove,” ujarnya.
Menurut Agus Juliartawan, penguatan keterlibatan masyarakat adat dan komunitas lokal perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dan konsisten. Dengan demikian, predikat Desa Adat Sadar Alam diharapkan tidak sekadar menjadi simbol penghargaan, tetapi juga menjadi dorongan bagi desa-desa adat untuk terus mengembangkan praktik pelestarian lingkungan di wilayah masing-masing.
Sejalan dengan hal tersebut, Founder Kawan Alam Indonesia, Henny Paula Sitohang, S.S., mengatakan bahwa inisiatif Desa Adat Sadar Alam merupakan bagian dari pendekatan konservasi berbasis masyarakat yang menempatkan masyarakat sebagai salah satu aktor utama dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Melalui Desa Sadar Alam, kami ingin memberikan pesan bahwa menjaga alam bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau organisasi lingkungan, melainkan tanggung jawab kita bersama. Tujuh desa adat yang mendapatkan penghargaan ini merupakan representasi dari semangat masyarakat yang telah mengambil bagian dalam menjaga lingkungan dan ekosistem mangrove. Kami ingin praktik baik ini terus diperkuat dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya,” kata Henny.
Ia menegaskan bahwa upaya konservasi tidak cukup hanya diwujudkan melalui kegiatan penanaman pohon, aksi bersih lingkungan, maupun kampanye kepedulian. Lebih dari itu, diperlukan penguatan kesadaran, perubahan perilaku, serta komitmen jangka panjang agar masyarakat memiliki keterlibatan langsung dalam menjaga lingkungan.
“Bukan cuma peduli, tapi turun tangan. Semangat inilah yang ingin terus kami bangun. Festival PESONA menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak, menyatukan gagasan, dan mengubah kepedulian menjadi aksi nyata bagi keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.
Festival PESONA Tahura Ngurah Rai 2026 sendiri diselenggarakan melalui kolaborasi UPTD Tahura Ngurah Rai bersama Kawan Alam Indonesia (KAI), dengan mengusung tema “Knowing, Learning, Loving” dan semangat “Youth Collaborative Eco-Movement”. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi multipihak yang mempertemukan unsur pemerintah, masyarakat adat, komunitas lingkungan, organisasi kepemudaan, akademisi, lembaga pendidikan, serta masyarakat luas dalam membangun kepedulian sekaligus mendorong aksi nyata pelestarian lingkungan.
Selama dua hari pelaksanaan, berbagai kegiatan edukasi dan konservasi digelar untuk memperkenalkan fungsi ekologis mangrove sekaligus membuka ruang partisipasi publik. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi aksi bersih waduk, penanaman mangrove, penelusuran jalur jungle tracking untuk mengenal ekosistem mangrove, pelatihan pembibitan mangrove, kelas kebencanaan, edukasi keanekaragaman hayati dan satwa, serta seminar nasional bertajuk “Bersuara untuk Hutan, Bergerak untuk Masa Depan”.
Festival ini turut melibatkan berbagai komunitas dan organisasi kepemudaan, di antaranya Mangrove Ranger, Pokdarwis Mangrove, dan Leo Club Bali Santi, serta memperoleh dukungan dari instansi pemerintah, TNI-Polri, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan mitra konservasi. Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa upaya menjaga kawasan konservasi membutuhkan pendekatan kolaboratif yang menghubungkan kebijakan, pengetahuan, kepedulian sosial, dan aksi lapangan.
Pada hari kedua, Minggu (1/11), rangkaian festival dilanjutkan dengan kegiatan Fun Run 5K yang melibatkan masyarakat dan komunitas olahraga. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang konservasi sebagai tempat edukasi, interaksi sosial, sekaligus aktivitas positif yang dapat mendekatkan masyarakat dengan lingkungan alam.
Melalui penyelenggaraan Festival PESONA Tahura Ngurah Rai 2026, UPTD Tahura Ngurah Rai bersama Kawan Alam Indonesia berharap tumbuh model kolaborasi konservasi berbasis masyarakat yang dapat diperkuat dan dikembangkan di berbagai wilayah. Pemberian predikat kepada tujuh desa adat menjadi salah satu langkah untuk membangun kemitraan jangka panjang antara pengelola kawasan dan masyarakat adat, sehingga tanggung jawab pelestarian tidak hanya bertumpu pada kelembagaan, tetapi juga tumbuh sebagai kesadaran dan gerakan bersama.
Lebih dari sekadar festival, PESONA Tahura Ngurah Rai 2026 menjadi pengingat bahwa keberlanjutan lingkungan dimulai dari kemauan untuk mengenal alam, memahami perannya, menumbuhkan kecintaan, dan menerjemahkannya melalui tindakan nyata. Sebab, menjaga alam bukan hanya tentang siapa yang paling peduli, melainkan tentang siapa yang bersedia mengambil bagian.
Satu Alam, Satu Aksi. Bukan Cuma Peduli, Tapi Turun Tangan.
KAWAN ALAM INDONESIA
Organisasi Konservasi – Platform Kolaborasi Multipihak
(CC89/RED)







Komentar