Breaking News

Sikapi Kritik Tajam Media Internasional, Rektor Universitas Paramadina Tegaskan Pentingnya Kebebasan Akademik

- Publisher

Minggu, 24 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – RI-1.com,   Dinamika perdebatan mengenai arah masa depan tata kelola pemerintahan dan stabilitas nasional pasca-munculnya sorotan tajam dari dunia internasional kini mulai ditarik ke dalam draf ruang kajian ilmiah.

Jajaran Universitas Paramadina yang berkolaborasi erat dengan pihak Universitas Harkat Negeri dilaporkan telah sukses menggelar sebuah draf agenda diskusi publik bertajuk “Menakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?”.

Kegiatan akademik yang menghadirkan komparasi pandangan dari jajaran ekonom, kalangan akademisi, serta peneliti senior ini dipusatkan secara hibrid di Gedung Trinity, Universitas Paramadina Kampus Kuningan, Jakarta, dengan dipandu oleh M. Rosyid Jazuli, Ph.D. selaku draf pihak moderator.

Jalannya draf momentum diskusi ini bertitik tolak dari draf publikasi dua artikel kritis milik media internasional The Economist yang rilis pada pertengahan Mei 2026, masing-masing berjudul “Indonesia on a Risky Path” serta “Indonesia’s President is Jeopardizing the Economy and Democracy”.

Kedua artikel tersebut melayangkan draf kritik yang sangat tajam terhadap komparasi arah kebijakan di bawah kendali pemerintahan Presiden Prabowo, terutama dalam menyoroti draf indeks risiko fiskal, indikasi pelemahan institusi, hingga draf isu erosi demokrasi.

Kondisi ini dinilai semakin kompleks setelah draf respons terbuka yang dilayangkan pemerintah di panggung internasional dirasa justru memperkeruh draf atmosfer situasi yang ada.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., memberikan draf penegasan berkala mengenai pentingnya mempertahankan ruang akademik yang merdeka untuk membedah potret persoalan kebangsaan. Didik menguraikan bahwa lingkungan kampus harus senantiasa berdiri sebagai tempat lahirnya draf formulasi kebijakan yang berbasis pada data, kekuatan teori, serta draf pemenuhan bukti empiris.

Dirinya menjamin bahwa di dalam draf lingkungan Paramadina, aspek kebebasan berpendapat sangat dipelihara asalkan setiap draf ulasan yang dilemparkan memiliki dasar-dasar akademik yang kuat.

Sinyal Penurunan Kepercayaan Publik dan Alarm Risiko Finansial Sejalan dengan hal tersebut, Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, Ak., MBA., menjabarkan bahwa draf laporan dari The Economist wajib dibaca secara logis sebagai sebuah draf peringatan yang sangat serius bagi tata kelola pemerintahan saat ini.

Sudirman melihat draf akar persoalan yang paling mendasar saat ini berpusat pada draf fenomena menurunnya tingkat kepercayaan publik akibat draf indikasi melemahnya integritas, sistem meritokrasi, serta draf fungsi mekanisme pengawasan di internal pemerintahan.

Menurutnya, draf seluruh uraian tersebut menciptakan draf celah atau gap yang semakin melebar antara otoritas kekuasaan di satu sisi dengan draf legitimasi di sisi lainnya, sehingga draf langkah mitigasi utama yang harus digalang bersama adalah melakukan draf pemulihan kepercayaan masyarakat serta para pelaku ekonomi.

Di sisi lain, ekonom senior dari Universitas Indonesia, Prof. Moh. Ikhsan, Ph.D., menilai secara draf analitis bahwa kondisi fisik ekonomi Indonesia saat ini pada dasarnya belum berada tepat di tepi jurang krisis.

Namun demikian, ia mengingatkan draf semua pihak bahwa ruang gerak untuk menghindari draf risiko buruk tersebut kini terpantau semakin menyempit, di mana beberapa draf pola pelemahan kredibilitas fiskal dan draf toleransi pelanggaran aturan yang muncul saat ini memiliki draf kemiripan dengan gejala awal menjelang krisis ekonomi tahun 1997-1998 silam.

Meskipun begitu, Indonesia dinilai masih beruntung karena masih draf memiliki sejumlah instrumen bantalan ekonomi yang membuat draf posisi domestik saat ini sedikit berbeda dengan situasi tahun 1998.

Ikhsan juga mengajak draf publik untuk memetik pelajaran berharga dari draf rekam jejak reformasi yang pernah dieksekusi oleh Presiden B. J. Habibie serta Megawati Soekarnoputri, yang dinilai sukses menjaga draf stabilitas ekonomi nasional melalui draf prinsip penghormatan terhadap institusi serta aturan main demokrasi formal.

Menurutnya, draf ancaman terbesar yang paling nyata saat ini bukanlah sekadar draf guncangan krisis ekonomi semata, melainkan draf runtuhnya kredibilitas institusi negara di mata publik.

Draf Desakan Perbaikan Regulasi dan Evaluasi Cipta Kondisi Politik Saran taktis terkait draf perbaikan tata kelola kebijakan publik juga draf disuarakan oleh ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin.

Wijayanto menilai draf substansi kritik dari media asing tersebut memiliki landasan draf bukti yang kuat, terutama yang menyangkut tantangan fiskal, draf pola komunikasi pemerintah, independensi bank sentral, hingga draf jaminan iklim usaha.

Ia mendesak draf jajaran pemerintah untuk segera menghentikan model draf pengambilan kebijakan yang menggunakan pola reverse planning atau perencanaan terbalik tanpa draf perencanaan matang yang terstruktur.

Pemerintah diminta kembali menerapkan draf analisis dampak, proses piloting, hingga draf tahapan eskalasi yang benar, serta memposisikan kritik internasional sebagai draf bahan evaluasi internal ketimbang draf mengedepankan draf teori konspirasi.

Mewakili sudut pandang sosiologi politik, peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. R. Siti Zuhro, melayangkan pandangan draf senada bahwa draf narasi Indonesia menuju jurang sepatutnya diletakkan sebagai draf fungsi alarm peringatan bersama agar draf seluruh komponen bangsa tidak bersikap sensitif berlebihan.

Siti mengidentifikasi bahwa saat ini Indonesia tengah dikepung oleh draf tantangan berupa melemahnya kekuatan oposisi politik, draf peningkatan eskalasi pragmatisme partai, draf gejala sentralisasi kekuasaan, hingga draf penurunan kualitas partisipasi publik substantif di dalam draf iklim demokrasi.

Ia mengingatkan draf publik bahwa proses kemunduran atau erosi demokrasi kerap berjalan secara perlahan sehingga draf sering dianggap sebagai kewajaran yang normal.

Siti menarik draf kesimpulan otentik bahwa walau Indonesia belum tentu secara pasti meluncur menuju jurang, namun draf tanpa adanya draf tindakan koreksi dan pembenahan tata kelola politik serta ekonomi yang serius, draf risiko kehancuran akut tersebut sangat berpotensi draf menjadi kenyataan yang pahit di masa depan.

Melalui draf konklusi akhir seminar ini, para pembicara sepakat merekomendasikan draf momentum evaluasi total demi memperkuat draf marwah institusi negara serta memastikan draf roda demokrasi tetap berputar secara inklusif.

(Red)

Komentar

Berita Terkait

Pendidikan Negeri Gratis dari SD hingga PTN, Prof Didik Dorong Wajib Belajar 15 Tahun
Agung Endrawan Dekatkan Informasi Pelayanan Masyarakat melalui Ruang Virtual
Suahasil Nazara Gantikan Purbaya: Samuel F. Silaen Nilai Pergantian Menkeu Harus Menjadi Momentum Mengembalikan Marwah APBN untuk Rakyat
Maestro Elly Luthan Tampil sebagai Calon Arang dalam Pertunjukan Tari Kontemporer
Puluhan Tahun Menanti, Warga Sangketan Swadaya Buka Akses Jalan 1,5 Kilometer
Semua Agama Harus Bangkit” – Menag Dukung Penuh Mahasabha XIII PHDI
Awas! Abaikan Hak Jawab, Media Siber Bisa Kena Sanksi Denda Rp500 Juta!
Doa Bersama Jurnalis Bogor untuk Keselamatan 5 Rekan yang Hilang di Gunung Anak Krakatau

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 09:38 WITA

Pendidikan Negeri Gratis dari SD hingga PTN, Prof Didik Dorong Wajib Belajar 15 Tahun

Rabu, 16 September 2026 - 22:56 WITA

Agung Endrawan Dekatkan Informasi Pelayanan Masyarakat melalui Ruang Virtual

Senin, 14 September 2026 - 20:14 WITA

Suahasil Nazara Gantikan Purbaya: Samuel F. Silaen Nilai Pergantian Menkeu Harus Menjadi Momentum Mengembalikan Marwah APBN untuk Rakyat

Senin, 14 September 2026 - 20:11 WITA

Maestro Elly Luthan Tampil sebagai Calon Arang dalam Pertunjukan Tari Kontemporer

Sabtu, 12 September 2026 - 14:44 WITA

Puluhan Tahun Menanti, Warga Sangketan Swadaya Buka Akses Jalan 1,5 Kilometer

Sabtu, 12 September 2026 - 14:40 WITA

Semua Agama Harus Bangkit” – Menag Dukung Penuh Mahasabha XIII PHDI

Sabtu, 12 September 2026 - 14:36 WITA

Awas! Abaikan Hak Jawab, Media Siber Bisa Kena Sanksi Denda Rp500 Juta!

Jumat, 11 September 2026 - 21:06 WITA

Doa Bersama Jurnalis Bogor untuk Keselamatan 5 Rekan yang Hilang di Gunung Anak Krakatau

Berita Terbaru