Sebuah Tanggapan atas Tulisan Mayjen TNI (Purn.) Prof. H.C. Dr. Rido Hermawan, M.Sc.
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
RI-1.com | Tulisan Mayjen TNI (Purn.) Prof. H.C. Dr. Rido Hermawan, M.Sc., “Ketika Manusia Terpisah Dari Dirinya”, menurut saya merupakan sebuah renungan yang sangat penting di tengah persoalan manusia dan peradaban hari ini.
Kekuatan tulisan tersebut bukan hanya terletak pada kritik terhadap kerusakan lingkungan atau keterasingan manusia modern, tetapi pada keberaniannya melihat hubungan yang lebih utuh antara manusia, alam, sesama manusia, sistem kehidupan, dan negara.
Ketika manusia kehilangan hubungan dengan dirinya, ia dapat kehilangan arah dalam memperlakukan alam. Ketika hubungan dengan alam rusak, kehidupan sosial dan ekonomi ikut terkena dampaknya. Ketika hubungan antarmanusia melemah, negara pun kehilangan salah satu fondasi terpentingnya: kepercayaan dan solidaritas masyarakat.
Dengan demikian, tulisan ini sesungguhnya telah membuka pembicaraan yang jauh lebih besar: bagaimana manusia membangun kembali keseimbangan kehidupannya?
Saya sangat mengapresiasi arah pemikiran tersebut.
DARI MENEMUKAN DIRI MENUJU MENEMUKAN AKAR
Namun, dari sini saya ingin menambahkan satu lapisan pemikiran—bukan untuk mengoreksi, melainkan untuk memperluas pencarian.
Ketika kita berbicara tentang manusia yang kehilangan dirinya, tentang hubungan manusia dengan alam, tentang kebersamaan, kebijaksanaan, dan kehidupan yang seimbang, saya kira kita tidak harus selalu mencari seluruh jawabannya dari pemikiran modern yang berkembang di luar Nusantara.
Justru mungkin sudah waktunya kita melakukan perjalanan sebaliknya:
kembali menggali apa yang pernah dipikirkan, dirasakan, dan dijalankan oleh manusia Nusantara.
Bukan untuk romantisme masa lalu.
Bukan pula untuk menolak ilmu pengetahuan modern.
Tetapi untuk memperluas cara pandang kita, dengan menyadari bahwa Nusantara bukan ruang kosong dalam sejarah pemikiran manusia.
Berbagai masyarakat Nusantara telah memiliki cara sendiri dalam memahami hubungan antara manusia, alam, sesama, kehidupan, dan Yang Maha Kuasa.
Bahasanya berbeda.
Istilahnya berbeda.
Tradisinya berbeda.
Namun, di dalam keberagaman tersebut terdapat sejumlah nilai yang menarik untuk terus digali: budi, hikmat kebijaksanaan, keseimbangan, keselarasan, gotong royong, penghormatan terhadap alam, tanggung jawab terhadap sesama, serta kesadaran bahwa manusia bukan penguasa tunggal atas kehidupan.
Karena itu, pertanyaannya mungkin bukan hanya:
“Bagaimana memasukkan pemikiran modern ke Nusantara?”
Tetapi juga:
“Apa yang dapat ditemukan dunia modern ketika kembali menggali pemikiran Nusantara?”
BUDI, KECERDASAN, DAN HIKMAT KEBIJAKSANAAN
Saya melihat istilah budi mempunyai ruang yang sangat dalam dalam kebudayaan Nusantara.
Budi bukan sekadar sopan santun.
Ia menyentuh cara manusia menggunakan akal, rasa, hati nurani, dan kebijaksanaan dalam menentukan tindakan.
Manusia boleh pintar, tetapi kepintaran tanpa budi dapat menjadi alat kehancuran.
Manusia boleh memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi dominasi.
Manusia boleh menguasai teknologi, tetapi teknologi tanpa tanggung jawab dapat memperbesar daya rusak manusia.
Karena itu, persoalan manusia modern mungkin bukan kekurangan kecerdasan, melainkan bagaimana kecerdasan dipertemukan kembali dengan budi dan hikmat kebijaksanaan.
Di sini saya melihat ada pertemuan yang menarik dengan gagasan Prof. Rido mengenai cageur, bageur, bener, singer, dan pinter. Beliau menunjukkan bahwa kelima watak tersebut tidak ditempatkan secara bertingkat, melainkan harus tumbuh bersama sebagai keutuhan pribadi.
Ini merupakan gagasan yang sangat bernilai.
Sebab manusia yang utuh memang tidak dapat dibangun hanya dengan kecerdasan.
Ia harus memiliki kemampuan berpikir, tetapi juga kemampuan merasa, menilai, mengendalikan diri, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.
KEARIFAN NUSANTARA SEBAGAI SUMBER DIALOG
Di berbagai wilayah Nusantara kita menemukan ungkapan, ajaran, hukum adat, filsafat hidup, dan pengetahuan lokal yang berbicara tentang hubungan manusia dengan kehidupan.
Ada yang menekankan keselarasan.
Ada yang menekankan keseimbangan.
Ada yang menempatkan budi dan kebijaksanaan sebagai ukuran manusia.
Ada yang mengajarkan penghormatan terhadap alam.
Ada yang menempatkan masyarakat bukan sekadar kumpulan individu, tetapi sebagai kehidupan bersama.
Dan ada pula yang menempatkan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa sebagai dasar moral kehidupannya.
Salah satu contoh yang sangat menarik adalah Tri Hita Karana dalam kebudayaan Bali: hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.
Menariknya, jika kita membaca kembali tulisan Prof. Rido, tiga hubungan tersebut juga hadir dalam struktur pemikirannya: manusia perlu kembali menemukan dirinya, memperbaiki hubungan dengan alam, dan memulihkan hubungan dengan sesamanya.
Karena itu, Tri Hita Karana dapat menjadi salah satu pintu untuk berdialog dengan berbagai kearifan Nusantara lainnya.
Bukan berarti seluruh tradisi Nusantara sama.
Justru keberagamannya yang harus kita hormati.
Yang menarik adalah menggali titik-titik kebijaksanaan yang beresonansi di antara keberagaman tersebut, kemudian mempertemukannya secara kritis dengan ilmu pengetahuan dan kebutuhan zaman.
Dengan cara itu, kearifan Nusantara tidak berhenti sebagai simbol budaya.
Ia dapat menjadi sumber pertanyaan dan sumber pengetahuan untuk membangun masa depan.
NUSANTARA BUKAN HANYA OBJEK PENGETAHUAN
Selama ini kita banyak belajar dari berbagai pemikiran dunia, dan itu merupakan bagian penting dari perjalanan ilmu pengetahuan.
Namun, bersamaan dengan itu, mungkin sudah waktunya kita semakin percaya diri menggali sumber pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat Nusantara sendiri.
Bukan untuk mempertentangkan Timur dan Barat.
Bukan pula untuk menolak ilmu pengetahuan modern.
Melainkan untuk memerdekakan cara pandang kita: mampu belajar dari dunia, tetapi juga mampu membaca kembali rumah sendiri.
Nusantara bukan hanya objek penelitian.
Nusantara juga dapat menjadi subjek pengetahuan.
Pengalaman sejarah, hukum adat, sistem sosial, tata ruang tradisional, pengetahuan ekologis, teknologi masyarakat, bahasa, sastra, filsafat hidup, dan tradisi lisan merupakan kekayaan yang layak dikaji secara serius.
Semuanya tentu tidak otomatis menjadi teori.
Tetapi semuanya dapat menjadi sumber pertanyaan, sumber pengetahuan, dan sumber inspirasi untuk membangun pemikiran yang lebih sesuai dengan pengalaman bangsa sendiri.
Dengan demikian, kita tidak meninggalkan pemikiran dunia.
Kita justru berdialog dengannya dengan posisi yang lebih percaya diri.
DARI PEMBANGUNAN MANUSIA MENUJU KETAHANAN YANG BERAKAR
Di sinilah pemikiran Prof. Rido menjadi sangat relevan bagi persoalan ketahanan bangsa.
Ketahanan tidak hanya ditentukan oleh sumber daya, teknologi, ekonomi, maupun kemampuan pertahanan.
Di bawah seluruhnya terdapat sesuatu yang lebih mendasar:
manusia.
Jika manusia rapuh, sistem menjadi rapuh.
Jika keluarga rapuh, masyarakat menjadi rapuh.
Jika masyarakat kehilangan kepercayaan, negara pun menjadi rapuh.
Jika hubungan manusia dengan alam rusak, ekonomi, kesehatan, pangan, dan bahkan keamanan dapat ikut terdampak.
Dan jika manusia kehilangan orientasi nilai, kemajuan teknologi justru dapat menciptakan kerentanan baru.
Karena itu, ketahanan perlu dilihat juga sebagai kemampuan menjaga keutuhan manusia, masyarakat, kebudayaan, alam, dan nilai kehidupan.
Dalam konteks Nusantara, hal ini menjadi semakin menarik karena keberagaman masyarakatnya selama berabad-abad telah melahirkan berbagai cara untuk menjaga keseimbangan kehidupan.
Ketahanan bangsa dengan demikian bukan hanya kemampuan menghadapi ancaman.
Ia juga merupakan kemampuan memelihara kehidupan yang ingin kita pertahankan.
MENJAGA NUSANTARA BERARTI MENJAGA EKOSISTEM KEHIDUPAN
Indonesia memiliki wilayah yang luas, tetapi Nusantara tidak hanya merupakan ruang geografis.
Nusantara juga merupakan ruang kebudayaan.
Di dalamnya terdapat beragam bahasa, adat, sejarah, pengetahuan lokal, tata kehidupan, dan pengalaman sosial yang membentuk manusia Indonesia.
Karena itu, ketika hutan hilang, yang hilang bukan sekadar pohon.
Ketika pengetahuan lokal hilang, yang hilang bukan sekadar tradisi.
Ketika gotong royong melemah, yang hilang bukan sekadar kebiasaan sosial.
Dan ketika budi serta kebijaksanaan kehilangan tempat, yang hilang adalah salah satu kompas moral kehidupan.
Inilah yang membuat pemikiran Prof. Rido tentang keterhubungan manusia, alam, dan sesama menjadi sangat penting. Beliau sendiri mengingatkan bahwa kehidupan tidak bekerja dalam sektor-sektor yang terpisah; kerusakan lingkungan dapat menjadi persoalan ekonomi, ketimpangan ekonomi dapat menjadi persoalan sosial, dan persoalan sosial dapat kembali menjadi persoalan politik.
Dengan kata lain, kehidupan adalah sebuah ekosistem.
MEMBAWA KEARIFAN MASA LALU KE MASA DEPAN
Karena itu, yang diperlukan bukanlah kembali hidup di masa lalu.
Yang diperlukan adalah membawa kebijaksanaan masa lalu untuk menjawab persoalan masa depan.
Tri Hita Karana dapat berdialog dengan pikukuh Sunda.
Pikukuh dapat berdialog dengan falsafah berbagai masyarakat Nusantara.
Gotong royong dapat berdialog dengan gagasan kewargaan modern.
Pengetahuan ekologis masyarakat adat dapat berdialog dengan ilmu lingkungan kontemporer.
Dan seluruhnya dapat berdialog dengan teknologi, ekonomi, pendidikan, serta ilmu pertahanan modern.
Dengan demikian, kita tidak sedang membangun pertentangan antara tradisi dan modernitas.
Kita sedang mencari titik temu antara akar dan masa depan.
SEBUAH RUANG KAJIAN AKADEMIK
Di sinilah saya melihat tulisan Prof. Rido membuka ruang yang sangat menarik untuk dikembangkan lebih jauh secara akademik.
Mungkin sudah waktunya berbagai kearifan Nusantara tidak hanya dipelajari sebagai warisan budaya, tetapi juga dikaji secara sistematis:
Apakah nilai-nilai tersebut dapat menjadi sumber konseptual bagi pembangunan manusia Indonesia?
Apakah hubungan manusia, alam, sesama, dan Yang Maha Kuasa yang hidup dalam berbagai tradisi Nusantara dapat memberi perspektif baru bagi ketahanan bangsa?
Dan dapatkah kekayaan pemikiran tersebut dipertemukan secara kritis dengan ilmu pengetahuan modern, teknologi, serta tantangan strategis abad ke-21?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut saya layak menjadi ruang dialog antara kebudayaan, pendidikan, pembangunan, dan ilmu pertahanan.
Bukan untuk mencari mana yang paling benar di antara berbagai tradisi.
Melainkan untuk menemukan apa yang masih hidup, relevan, dan dapat memberikan kontribusi bagi masa depan Indonesia.
PENUTUP
Karena itu, saya melihat “Ketika Manusia Terpisah Dari Dirinya” bukan hanya sebagai renungan mengenai manusia modern, lingkungan, dan pembangunan.
Tulisan ini dapat menjadi pintu masuk menuju pertanyaan yang lebih mendasar:
Ketika manusia Indonesia hendak menemukan kembali dirinya, mungkinkah ia juga perlu menemukan kembali akar pengetahuan dan kebijaksanaan yang tumbuh di tanahnya sendiri?
Mungkin jawabannya tidak perlu dicari dengan tergesa-gesa.
Ia justru perlu digali, diuji, dipertemukan dengan ilmu pengetahuan modern, dan dikembangkan melalui kajian akademik yang terbuka dan kritis.
Sebab bangsa yang maju bukan bangsa yang menutup diri dari dunia.
Bangsa yang matang adalah bangsa yang mampu belajar dari dunia tanpa kehilangan kemampuan untuk belajar dari dirinya sendiri.
Dan mungkin di situlah gagasan besar tulisan Prof. Rido dapat kita lanjutkan:
manusia yang kembali menemukan dirinya akan menemukan hubungannya dengan alam dan sesamanya; bangsa yang kembali menemukan akar kebijaksanaannya akan menemukan kembali salah satu sumber kekuatannya untuk menghadapi masa depan.
Kita dapat menjadi modern tanpa tercerabut.
Kita dapat menguasai teknologi tanpa kehilangan budi.
Kita dapat membangun ekonomi tanpa kehilangan keseimbangan dengan alam.
Kita dapat memiliki kekuatan pertahanan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Dan kita dapat menjadi bagian dari dunia tanpa kehilangan jati diri Nusantara.
Pada akhirnya, menemukan kembali diri bukan hanya perjalanan ke dalam diri manusia.
Ia juga merupakan perjalanan untuk menemukan kembali akar kebijaksanaan yang selama ini mungkin terlalu dekat dengan kita, sehingga justru kurang kita lihat.
Dari sanalah mungkin sebuah Ketahanan Nusantara yang berakar dapat mulai kita pikirkan—bukan sebagai penolakan terhadap pemikiran dunia, melainkan sebagai keberanian bangsa untuk mengenali, menguji, dan mengembangkan kekayaan pikirannya sendiri bagi peradaban masa depan. (Red)







Komentar