RI-1.com | Denpasar, Bali — Suasana luar biasa menyelimuti Bali International Worship Center (BIWC) di Lantai 3 Glandis Jalan Buluh Indah, Denpasar, pada Jumat, 6 Februari 2026.
Ibadah worship yang digelar lembaga ini menjadi saksi atas lawatan Tuhan yang dahsyat, di mana ratusan umat dari berbagai denominasi gereja di Pulau Bali berkumpul dalam penyembahan yang penuh kuasa rohani.
Pendeta Reks Wuinarno, yang telah melayani Tuhan selama kurang lebih 8 tahun di Surabaya dan kini menjabat sebagai Ketua BIWC, menyampaikan khotbah tunggal berjudul “Hadirnya Roh Kudus” berdasarkan Efesus 3:16. Ibadah ini dihadiri oleh sekitar 500 umat Kristen, termasuk para pendeta beserta ibu-ibu pendeta serta jemaat dari berbagai latar belakang gereja di Bali.
Dalam khotbahnya, Pendeta Reks menekankan pentingnya penguatan rohani melalui Roh Kudus untuk menghadapi tantangan peperangan rohani di masa kini.
Isi Khotbah: Penguatan dan Peneguhan oleh Roh Kudus
Pendeta Reks Wuinarno membuka khotbahnya dengan Efesus 3:16, yang menyoroti peran Roh Kudus dalam menguatkan dan meneguhkan batin orang percaya. “Menguatkan (Dunamos) berarti bertahan sampai akhir melalui hubungan pribadi dan pengalaman bersama Roh Kudus, seperti yang disebutkan dalam Yohanes 1:12 di mana kuasa di dapat secara cuma-cuma karena kita adalah anak-anak Tuhan,” ungkapnya.
Ia membedakan antara menguatkan yang fokus pada ketahanan dengan meneguhkan (Krataioo) yang berarti empower—makin lama makin kuat dan hebat, sebagaimana Efesus 6:10 yang menjanjikan kemampuan bertahan, menyerang, dan menang dalam peperangan rohani.
Pendeta menekankan bahwa untuk memenangkan pertempuran rohani, umat Tuhan harus memiliki tiga perlengkapan utama: perisai iman, Firman Allah, dan doa.
Tiga Perlengkapan Utama dalam Peperangan Rohani
1. Perisai ImanBerdasarkan Efesus 6:16, perisai iman (thureos)—berbentuk lonjong seperti pintu—dirancang untuk menahan setiap serangan panah api musuh. “Namun, perisai ini hanya kuat jika diminyaki dengan Roh Kudus, seperti dalam Yesaya 21:5,” tegas Pendeta Reks. Iman yang dilebur dan di minyaki Roh Kudus akan menjadi benteng tak tertembus bagi orang percaya.

2. Firman Allah Mengacu pada Efesus 6:17, ketopong keselamatan (perikephalaia) melingkari kepala sebagai perlindungan. “Firman Allah harus menjadi Rhema yang hidup, yang menyatu dengan daging jiwa kita,” katanya. Firman tanpa Rhema hanyalah “tong kosong nyaring bunyinya” yang tidak ditakuti iblis. Ia merujuk 1 Tesalonika 1:5-7, di mana Rhema membawa kepastian kokoh, mengubah hidup dengan sukacita dan kekuatan roh, menjadikan kita teladan, serta menjadi terang yang membongkar dan menghancurkan kegelapan di sekitar.
3. Doa Efesus 6:18 menegaskan doa sebagai senjata yang mengubah situasi dan memenangkan pertempuran. Pendeta Reks mengilustrasikan dengan kisah Elia yang memperbaiki mezbah Tuhan yang diruntuhkan dalam 1 Raja-raja 18:25-30. “Mezbah adalah doa—banyak mezbah doa kita telah diruntuhkan, seperti yang dikeluhkan Tuhan dalam Yehezkiel 22:30-31 karena sulit menemukan pendoa sejati.” Ia menambahkan, “Doa mungkin tidak langsung mengubah masalahmu, tapi mengubah dirimu menjadi kuat menghadapinya.
Dan di sela-sela ibadah, bpk Ketut Putra wartawan media RI-1.com bertemu dengan Ketua Panitia Konferensi, Pendeta Jemry, yang mengonfirmasi penyelenggaraan konferensi besar pada 20-21 Februari 2026 di lokasi yang sama.
Konferensi ini diharapkan menjadi kelanjutan dari gelombang rohani yang dirasakan pada ibadah Jumat malam.
Ibadah worship di BIWC ini tidak hanya menjadi pengalaman spiritual mendalam bagi para hadirin, tetapi juga panggilan bagi seluruh umat Kristen di Bali untuk memperkuat perlengkapan rohani mereka.
Dengan menekankan sinergi iman, Firman, dan doa, Pendeta Reks Wuinarno mengajak jemaat untuk siap menghadapi tantangan rohani dengan kuasa Roh Kudus yang hadir secara nyata.
(CynTha)







Komentar