RI-1.com | Denpasar, 22 April 2026 – Di sebuah sudut Bali, suara alat tenun bukan mesin (ATBM) berdetak perlahan. Tangan-tangan terampil para pengrajin bekerja dengan penuh kesabaran, menyusun benang demi benang menjadi kain endek yang bukan sekadar indah, tetapi juga penuh makna.
Dari sanalah perjalanan Jegeg Tri Busana dimulai.Setiap helai kain yang mereka bawa ke ajang “Persit Bisa 2” di Balai Kartini, pada 7–9 Mei 2026, bukan hanya produk, melainkan cerita.
Cerita tentang tradisi yang dijaga, tentang budaya yang dirawat, dan tentang harapan agar warisan Bali tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.
Persiapan menuju Jakarta bukan hal sederhana. Produksi ditingkatkan, kualitas dijaga dengan ketat, dan desain terus disempurnakan. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah: komitmen untuk tetap setia pada akar budaya.
Jegeg Tri Busana menghadirkan dua wajah dalam satu harmoni—kain endek lembaran yang sarat filosofi, dan busana siap pakai dengan sentuhan modern. Sebuah upaya agar endek tidak hanya tersimpan sebagai warisan, tetapi juga hidup dan dikenakan dalam keseharian.
“Kami ingin setiap orang yang datang tidak hanya melihat kain, tapi merasakan perjalanan panjang di baliknya,” ujar perwakilan Jegeg Tri Busana.
Keikutsertaan ini menjadi langkah kecil dengan makna besar—membawa Bali lebih dekat ke Jakarta, sekaligus membuka jalan bagi para pengrajin lokal untuk terus berkarya dan berkembang.
Karena bagi Jegeg Tri Busana, melestarikan budaya bukan hanya tentang menjaga masa lalu, tetapi juga tentang menenun masa depan. (Red)







Komentar